Nama Panggilan : Diah
Tempat/tgl lahir : Denpasar, 4 April 1982
Alamat : Jl.Tawakal Raya No.7 Grogol-Jakarta Barat
Asal : Jl.Plawa no. 93 “Puri Alit Mahendradatta” Denpasar- Bali
Nama Ayah : Shri Wedastera Suyasa ( alm )
Nama Ibu : I Gusti Ayu Suwitry Wedastera Suyasa
Pendidikan : Fakultas Ekonomi-Manajemen, semester VII Univ.Trisakti Jakarta
Agama : Hindu
Kegiatan dan jasa keagamaan Hindu :
2002-2003 : Bendahara Umum UKM Kerohanian Hindu Universitas Trisakti Jakarta
2000 : Sekretaris Yayasan Muda Hindu Indonesia (YHMI)
2001 : Bendahara Forum Intelektual Muda Hindu Dharma ( FIMHD )
2001-skrg : Bendahara Badan Dana Punia Hindu Nasional (
BDPHN )
2001 : Sekretaris Yayasan Kepustakaan Bung Karno
2001 : Sekretaris Yayasan Kepustakaan Bung Karno
2003-skrg : Volunteer ‘Sanggar Anak Akar’ Jakarta
2003-skrg :
Koordinator Asisten Dosen Statistik Universitas Trisakti Jakarta
2002-skrg :
Sekretaris Umum Forum Intelektual Muda Hindu Dharma (FIMHD)
2002-skrg : Wakil Direktur The Hindu Center
2002-skrg : Wakil Direktur The Hindu Center
2002-skrg : Ketua II Yayasan Mahendradatta
2003 : Commitee 1st Bali International Film Festival (BIFF)
2003 : Commitee 1st Bali International Film Festival (BIFF)
1999
: Kontingen Langgam’99 dlm tim MB SSMD
Bali kembali mendapatkan kehormatan di Tanah Air,
yakni dengan diberikannya Penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri)
kepada Dr. I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi Wedasteraputri, S.E., M.M.
sebagai Doktor Wanita Termuda di Indonesia. Pada usia yang baru mencapai 27
tahun dan delapan bulan, wanita kelahiran 4 April 1982 ini berhasil mengikuti
jejak kakandanya yakni Abhiseka Ratu Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna
Kepakisan I, Dr. I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra
Suyasa III yang juga meraih rekor Muri sebagai Doktor Termuda di Indonesia. Super
woman mungkin itu julukan yang tepat disandang wanita ini. Maklum saja banyak
organisasi yang diikuti oleh Diah saat masih duduk di bangku kuliah baik
organisasi yang bersifat internal kampus, maupun organisasi yang bersifat
eksternal. Kegiatan tersebut mulai dari FIMHD,BDPHN, UKM HINDU USAKTI hingga
Volunteer ‘Sanggar Anak Akar’ Jakarta.
Diah mengaku telah mulai aktif dalam kegiatan
organisasi semenjak duduk di bangku SMP. Baginya masa remaja tidak harus
dinikmati dengan cara hura-hura atau sekedar nongkrong-nongkrong di Mall,
akan tetapi masa remajanya ia habiskan untuk kegiatan berorganisasi untuk
mengembangkan ide-ide, belajar, serta bersosialisasi untuk meningkatkan
kepercayaan diri. Diah tampaknya kurang setuju dengan pendapat yang
mengatakan bahwa mahasiswa yang ikut berorganisasi maka kuliahnya pasti akan
terganggu, tetapi ia justru menikmati hal yang dilakukannya itu, dan syukur
belum pernah ada masalah karena ia mampu untuk mengatur waktunya dengan baik.
Diah juga ikut bergabung di organisasi-organisasi yang dipimpin oleh kakaknya
dan sikap profesionalitas tetap diutamakan meskipun ia bekerja dengan
saudaranya sendiri.
Sebagai seseorang yang lahir dari keluarga terdidik,
ia merasa memunyai tanggung jawab menjadi suriteladan bagi masyarakat,
khususnya bagi umat Hindu. Ini
adalah pesan yang selalu diamanatkan oleh leluhurnya, terutama almarhum ayahnya
Shri Wedastera Suyasa, yang juga pendiri Universitas Mahendradatta. Jiwa
rantau pun sudah tertanam sejak dini dan tampak kemandirian merupakan bagian
hidupnya. Diah mencontoh sikap kemandirian ini dari sosok ibundanya, I Gusti
Ayu Suwirty. Beliaulah yang menjadi kekuatan utama Diah dalam berkarir.
Sebagai seorang wanita Hindu Bali, Diah sangat menyakini bahwa tanpa restu
dari seorang ibu, maka apa pun cita-cita seorang anak tidak akan pernah
tercapai. Ibundanya sangat gigih memberikan motivasi dan semangat bagi Diah,
terutama setelah ditinggal oleh almarhum ayahnda pada tahun 2000.
Untuk mencapai cita-citanya, ia pun rela kembali ke
Bali untuk membangun tanah kelahirannya. Sebenarnya kalau ingin berkarir dan
menjalin jaringan, maka Jakarta adalah tempat yang tepat baginya. Sejak
menempun pendidikan S-1 hingga S-3, Diah sudah berhasil menaklukkan Ibu Kota
dan belajar banyak hal terutama dalam bidang ekonomi dan bisnis. Kini Diah
kembali ke Bali untuk membantu membangun Bali. Banyak cita-cita dan ide besar
yang Diah realisasikan untuk Bali, yang juga adalah Direktur Eksekutif Bali
Convex Nusa Dua ini.
Tentu saja Diah merasa bangga dianugrahi gelar doktor termuda oleh MURI karena di antara 250 juta penduduk Indonesia, ada seorang perempuan Hindu Bali yang bisa meraih gelar Doktor Wanita Termuda di Indonesia. Apalagi rekor Doktor Termuda masih dipegang oleh kakandanya Dr. Wedakarna.
Dan karena itulah, Dr. Diah Werdhi merasa memiliki
tanggung jawab untuk membesarkan Universitas Mahendradatta yang merupakan
perguruan tinggi swasta tertua di Bali dan Nusa Tenggara. Diah tidak setuju,
jika sebuah lembaga pendidikan menjadi sebuah industri yang hanya mencari
keuntungan semata tapi meninggalkan swadharmanya sebagai sebuah lembaga
pengayom bagi Bali. Bersama dengan sahabat-sahabatnya dari beberapa negara,
ia juga mempersiapkan perhelatan akbar
yakni Bali Bussiness Forum dan Bali Best Brand, Bali International Costumer
Satisfaction Award dan Badan Kerja Sama Doktoral Ilmu Pemerintahan
Jakarta-Bali pada tahun 2010.
Banyak nasehat dan saran yang Diah berikan terhadap
pemuda Hindu di Indonesia. Menurut pandangannya pemuda Hindu kini cenderung
tidak ingin berorganisasi dalam bidang agama karena sangat rapuh akan
keyakinannya. Pemuda Hindu hanya mengenal Hindu sebatas ritual semata, dan
bahkan tidak pernah melihat Kitab Suci Weda. Baginya pemuda Hindu tidak boleh
berpikiran secara minoritas terhadap agamanya, meskipun Hindu adalah agama minoritas di Indonesia.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar